Rabu, 02 Januari 2019

CERITA PERJALANAN #3 ISTANBUL

Jalan masih panjang...
Terbentang di hadapan
Tak hanya sekedar DUNIA
Lihatlah kedepan
Yang lalu biar berlalu
Jadikan pemicu kalbu

Jalan hidup takkan pernah lurus
Pasti ada salah
Lewati segalanya
Tapi Tuhan tak pernah berhenti
Membuka jendela maaf untuk kita

(Edcoustic - Jalan Masih Panjang)

***
Soundtrack lagu diatas adalah lagu favoritku ketika mengerjakan sesuatu di depan laptop, termasuk saat menuliskan tentang ini, tentang bagaimana (lagi-lagi) Allah menjawab doaku dengan cara tak ter-logikakan oleh akal manusia. Terimakasih Ya Mujiib.

Oia, maaf untuk yang nunggu tulisanku tentang perjalanan kemarin (untuk yang nunggu sih) hehe.. kalau ngga, anggaplah ini adalah tulisan untuk diriku sendiri tentang ke-Maha Baik-annya Ia pada hamba yang seringkali alpa untuk bersyukur seperti diri ini. :"

Aku baru sempat menuliskan ini ketika tahun sudah berganti angka, dari 8 menjadi angka 9. Angka tertinggi dari semua angka. Tapi apalah arti angka ya kan, yang penting adalah bagaimana untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kehari, bulan ke bulan, tahun ke tahun. #halaah :D Sepulang darisana ku berasa maraton dikejar berbagai deadline #cielahsokbet. wqwq tapi beneran, ku berasa diteror untuk segera menyelesaikan laporan karena hanya menghitung hari untuk monev, belum lagi buku-buku yang melambai untuk segera dibaca dan dipelajari. Alhamdulillah semuanya telah terselesaikan dengan baik di Tahun yang baru ini. (lagi) Terimakasih Ya Ra'uf telah memampukan :")

Jangan cari aku disini, karena aku gaada di foto ini, ku lebih milih jalan2 😆
***
1. Awal dari perjalanan
Banyak yang bertanya kepadaku, "kok bisa diundang menjadi pembicara?" "informasinya dapat darimana?" dan segala pertanyaan serupa ketika pertama kalinya ku posting video singkat tentang profil pembicara yang diundang untuk mempresentasikan ide terkait isu halal.

Pada saat itu ku jawab singkat, "nanti ya ku cerita di blog, biar jelas" bukan ku gamau cerita saat itu juga, tetapi karena ketika itu ku masih riweuh dengan deadline yang menumpuk, ku pending cerita untuk menyiapkan jawaban terbaik, karena ku ingin menjawab bukan hanya saja sekedar hasil, tetapi lebih dari itu, dalam proses ini selain kita yang berusaha maksimal, ada Allah Yang Maha Memainkan Peran. :')

April 2018
Adalah bulan dimana aku di wisuda untuk kedua kalinya, menautkan gelar master di belakang nama, walau sebenarnya hingga saat ini masih merasa belum pantas, karena ini bukan hanya sekedar gelar, tapi ini adalah sebuah amanah, untuk apa dan untuk siapa ilmu yang didapat akan didedikasikan. (cerita perjalanan wisuda bisa dibaca di judul https://ziquidh.blogspot.com/2018/04/surat-masa-depan-untuk-buah-hatiku.html ) aku lupa persis tanggalnya yang jelas pada bulan ini juga aku mendapatkan sebuah pesan dari grup halal Adiwidya KAMIL 2017 tentang informasi ini. 

Seseorang yang ku lupa namanya memberikan link untuk siapa saja yang tertarik dan berminat mencoba memasukan paper ke-event tahunan "World Halal Summit 2018", yang nantinya akan di review dan diseleksi, siapa yang papernya dianggap layak, maka akan diundang dengan segala akomodasi GRATIS. dari mulai tiket pesawat, hotel, makan, dll.

☺☺☺

Siapa yang tidak tergiur dengan penawaran tersebut, menapakkan kaki di Kota Istanbul, Kota yang menjadi saksi bahwa Islam pernah berjaya dan akan berjaya kembali (InshaAllah) adalah salah satu impianku, apalagi gratis, hehe walau dengan syarat yang berjibun, ku merapalkan doa, "Allah... aku coba ya..." gumam hati sambil membulatkan tekad. "oke, aku buat paper sekarang!!" 

Berbekal dari hasil tesis yang bagiku menarik untuk diangkat menjadi topik, ku beranikan diri untuk submit, semoga ga hanya menarik untukku saja, tapi untuk dunia (begitu lirihku) :") gausah diceritakan bagaimana meramu kata untuk membuat papernya ya, sampai sekarang ku pun masih dibuat takjub, Allah sangat bermain peran untuk ini, membukakan fikiran, meringankan jari untuk mengetik huruf per huruf, siapa lagi yang mampu melakukan ini kalo bukan Ia Dzat yang Maha Memampukan :")

Hingga pada akhirnya, H-2 menjelang deadline, ku submit, bermodalkan basmallah dengan keyakinan apapun hasilnya itu pasti yang terbaik, ku selalu meyakinkan diriku, Allah menyiapkan banyak jalan untuk mewujudkan asa hambaNya, dan kalau ini bukan jalan yang terbaik, maka akan ada jalan lain, Ia sebaik-baiknya Perencana. Ikuti saja alurnya, maka kamu akan sampai di tujuan yang benar-benar Allah Ridhoi.

Juli 2018
Paper yang diterima akan dikabari via email, namun hingga batas waktu pengumuman tanggal 2/07/2018 tak kunjung ku terima kabar itu. Ku berasumsi, oh paperku tak layak sepertinya :") Sedih? sejujurnya iya, mimpiku buat menginjakkan kaki di Istanbul sepertinya harus di pending sementara, mungkin bukan ini waktu yang terbaik. Allah, aku ikhlas. 

Disini aku belajar, jika ikhlas sudah digaungkan, maka jalan terbaik lah yang akan didapat. kuncinya satu, Yakin.

Tiga hari setelah tanggal seharusnya pengumuman diumumkan, panitia mengirim email, mengatakan bahwa ada penundaan pengumuman karena belum selesainya review semua ratusan paper yang masuk. Membaca email tersebut, rasaku semakin bercampur aduk, disatu sisi ada kebahagian terasa, karena itu artinya masih ada harapan dan kemungkinan untuk paperku diterima, tapi disisi lain ku dibuat ciut karena membaca kalimat ratusan paper (((Ya Ratusan Paper))) dari seluruh dunia. MashaAllah... cuma tawakkal dan melangitkan doa yang ku mampu lakukan, (lagi) aku yakin, Allah Paling Tau yang Terbaik. 

Waktu berlalu, hingga pada tanggal 31 Juli 2018 adalah kesekian kalinya ku dibuat menangis oleh Ia Yang Kasihnya tak tergambarkan oleh kata. Email yang ku tunggu akhirnya mendarat manis diurutan kotak masuk, "Acceptance Letter" begitu judulnya. Hanya dengan membaca judulnya saja sudah membuat dada berdesir, MashaAllah. Uraian air mata tak perlu ditanya, sedari awal sudah tak terbendung.. setiap bulirnya mengungkapkan rasa terimakasih untuk Ia yang Tidak Pernah meninggalkan aku sendirian, untuk Ia yang menggenggam harap hamba yang selalu yakin pada ke Maha Baikkan Nya.

Surat Cinta dari Ia Yang Maha Cinta💓

Walau dalam uraian air mata ku tak mampu berkata, tapi disela tangis ku berlirih.. Ya Mujiib... Terimakasih :”

September 2018
Ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang besar itu memang perlu effort yang besar pula. Sehingga ku benar-benar menenggelamkan diri pada segala persiapan yang dibutuhkan, bahkan kala itu, sempat ku menghilang dari dunia per-sosial media-an, karena tekadku adalah, Allah sudah memberikan kesempatan ini, maka gunakan sebaik-baiknya, lakukan yang terbaik, dan satu hal yang penting, jangan membuat malu. Maka dari itu ku redam keinginan untuk main dan bersosial media, walau sebenernya masih curi-curi sedikit sih buat buka instagram hehe..

Oktober 2018
Segala persiapan sudah hampir selesai, tiket sudah ditangan. hotel pun demikian, ketika ku buka email yang berisikan tiket dan hotel, waow. semakin ku dibuat takjub, Turkish Airline business class dan Sheraton Atakoy *5, menghiasi isi email tersebut, tak henti ku ucapkan syukur. Ku masih berasa mimpi diperlakukan se-spesial ini, kadang ku iseng menghitung-hitung berapa dalam harus ku merogoh kocek jika menggunakan biaya pribadi, HAHA bahkan untuk mengkalkulasikannya saja ku tidak sanggup, butuh berapa bulan aku menabung? eh.. bisa jadi tahunan. Tapi Allah Maha Kaya, ketika Ia bilang kun fayakun, maka tidak ada yang mustahil bagiNya. Terimakasih Ya Mughni.. 💗

November 2018
Hari H semakin dekat, acara dimulai tanggal 29 November - 2 Desember 2018, semakin berkecamuk rasaku, walau dirasa persiapan diri sudah maksimal, tetapi masih merasa kurang dan kurang. Hanya satu yang aku takutkan, ketika ku mengecewakan yang mengundang (Jangan sampai Ya Allah...) Terlebih ketika ku mendapat rundown acara, yang mana disana memuat semua nama speaker yang akan mengisi acara tersebut, kamu tahu? dari sekian nama yang tertulis rapi, hanya nama aku saja yang tidak memiliki embel-embel Dr. didepannya, selebihnya Dr. bahkan Prof. atau minimal assoc Prof. ah apapun itu, yang jelas difikiranku saat itu, "ini bukan acara biasa, yang berbicara pun bukan orang biasa, boleh dibilang pakar... kalaupun ada yang dari indonesia, ku merasa Prof. Iim pembimbingku yang lebih tepat untuk berbicara..." -- ada banyak ketakutan, ada banyak kekhawatiran, walau Allah selalu ku sebut, tapi tetap saja ketakutan itu mendominasi. -- Allah.. mampukan hamba :"

Ketika rasa takut itu tak terbendung, menghadap pembimbing tersayangku adalah solusi, setidaknya ku mendapatkan ketenangan batin setelah berbicara dengan beliau, Prof Iim mengatakan, "kamu bisa. InshaAllah, ini kesempatanmu, kalau saya sudah biasa, saya sudah tua, bukan waktunya lagi untuk yang begitu-begitu. Giliran kamu. Semangat ya. Fii Amanillah." Singkat namun ngena, memang Allah Maha Baik, mempertemukan aku dengan orang baik seperti beliau. Makasih Allah, terimakasih Prof Iim... :")

2. Selama Perjalanan
Pada paragraf ini aku akan menceritakan sedikit detail teknis terkait perjalanan selama di Istanbul, Turki, semoga bermanfaat. 

Perjalanan Menuju Bandara Soekarno-Hatta
Tanggal 27 November 2018 adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Ya. akhirnya hari ini tiba, pamit sama Bunda untuk pergi, seolah tidak pergi jauh, padahal jarak yang akan ku tempuh lebih dari 9500 km... tapi hari itu biasa saja, cium tangan pipi kanan pipi kiri seperti ku hendak pergi ke kampus, walau saat itu, ku sedikit berbisik, bunda... doain zia untuk dimampukan memberikan penampilan terbaik yaa.. dan bunda memelukku erat, seperti biasa pelukan bunda selalu hangat dan menenangkan. Ya ini perjalanan pertamaku, benar-benar sendirian. walau sejatinya tidak sendirian ☺

Transportasi yang kugunakan untuk ke Bandara adalah : 
  • Kereta Api Cicalengka - Bandung, IDR 5.000,-
  • Lanjut menggunakan Kerata Api Bandung - Gambir, IDR 100.000,-
  • Gojek dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Sudirman Baru (BNI CITY), IDR 14.000,-
  • Kereta Api Bandara dari St. Sudirman Baru - Bandara Soekarno Hatta (SHIA). IDR 70.000,-
  • Kalayang dari Stasiun Bandara menuju Terminal 2/T2, IDR 0,- (gratis)
Di perjalanan ini ku merasakan segalanya serba komplit, merasakan transportasi rakyat, khususnya kereta, dari kereta yang biasa aja sampai kereta yang bagus (versiku).. orang-orang yang ditemui pun beragam, dari orang yang pakai baju kaos oblong celana kotor, bahkan robek (robek bukan karena sengaja dirobekin kaya anak-anak gawl itu yaaa...), hingga orang berdasi. MashaAllah... perjalanan memang membuat kita semakin banyak melihat orang dan semakin hati dituntut untuk bersyukur. Ku selalu ingat pesan ayah, "Jadi orang harus fleksible, bisa membaur dengan orang kalangan bawah dan bisa melebur dengan orang kalangan atas, tapi tetap Qanaah nomor satu." kata-kata ayah selalu terngiang dalam perjalanan ini. 

Oia, yang baru bagiku adalah sistem transportasi Indonesia sekarang sudah banyak kemajuan, khususnya kereta api. Kereta api ternyaman yang ku rasakan pertama kali di Indonesia adalah kereta api bandara. Ketika sampai di Stasiun Sudirman atau yang lebih dikenal dengan BNI CITY, ku dibuat takjub dengan tampilan stasiun yang seperti bandara. Luas, nyaman, dan bersih. Parameter pertama yang ku lihat dari suatu tempat untuk mengatakan tempat itu bagus atau tidak adalah dilihat dari musholanya, dan ketika ku masuk, musholanya cukup luas, nyaman, dan yang paling penting mukenanya wangi. Alhamdulillah.


Pembelian tiketnya pun terbilang baru bagiku, karena disini tidak menerima uang cash, tetapi pake kartu Debit. karena ini pertama kali bagiku, maka ku dibantu oleh bapak satpam yang bertugas dekat mesin penjulan tiket. Oia, bukan berarti nama stasiunnya BNI CITY maka harus pakai kartu debit BNI ya, bisa pake kartu debit selain BNI tanpa dikenakan charge ko.. 👏


Jadwal Kereta Api Bandara
Sumber: Detikfinance
Yang aku bingungkan adalah kenapa fasilitas sebagus ini terbilang sepi, apa karena memang masih baru, atau harganya yang cukup mahal? Tapi kalau dilihat dari fasilitas dan segala kemudahannya serta efisiensi waktu, ini menjadi salahsatu yang mesti dicoba. Ketika ku masuk ke dalam keretanya cukup nyaman, yaa jika dibandingkan dari segi kebersihan dengan shinkansen di Jepang, lumayan lah. Setiba di stasiun bandara, untuk mencapai terminal 1/2/3 Bandara Soekarno Hatta, sekarang sudah ada Kalayang yang terintegrasikan langsung dengan stasiun bandara, ini pertama kalinya ku naik kalayang jadi berasa antusias sampai lupa ambil hp untuk motret. maapkeun 😅😅 Jadi menurutku pribadi, kereta bandara ini worth it to try untuk mengefisiensikan waktu.

Sepiii.....

Berasa kereta pribadi wqwq

Bandara Soekarno Hatta (CGK)
Satu hikmah ketika melakukan perjalanan sendiri adalah kamu tidak ribet, bisa kemanapun kamu suka, ritme berjalan bisa kamu atur sendiri, mau cepat, mau lambat, sesukamu. walau sebenarnya melakukan perjalanan bersama lebih baik, apalagi sama kamu #eh (padahal udah ku niatkan tulisan ini bebas dari unsur baper tentang kamu, tapi tetep weee....) 😆

Sesampainya di terminal 2 Soekarno Hatta, ku langsung check-in.. dan langsung menuju ke ruang tunggu, ketika proses pengecekan paspor dan visa ku ditanya ini itu, pertanyaannya standar kayak ditanya, mau kemana, berapa lama, mau ngapain.. tapi ada pertanyaan resek ketika ditanya, "beneran sendirian?" berulang kali... mas-masnya semakin menambah kebaperanku kala itu. inginku jawab, mas kalau bisa berdua mah ku juga ingin berdua. tapi tak kuasa ku jawab maka pada akhirnya ku hanya bilang iya sambil senyum (berulang kali pula).

Tentang Visa Turki.
Turki termasuk negara yang sangat mudah di kunjungi oleh orang Indonesia, karena pada saat pengajuan visa sungguh sangat mudah, no ribet-ribet club wqwqwq. Ada 2 cara untuk mendapatkan visa Turki bagi Warga Negara Indonesia (WNI).

  • Visa on Arrival (VOA)
Visa ini diajukan ketika kita sampai di Bandara Ataturk, Istanbul. Setelah itu kita bisa mencari counter untuk mendapatkan VOA dengan mengikuti signboard VISA yang tertera di bandara. Jangan khawatir, signboard ini terlihat cukup jelas dan mudah diikuti kok. Oia jangan lupa untuk menyiapkan uang tunai sebesar 35 USD untuk membayar biaya pembuatan VOA. Jika tidak membawa uang tunai USD, ada fasilitas ATM di dekat counter VOA yang mengeluarkan uang tunai USD. Dan taraaa paspor kita akan ditempel sticker visa Turki. VOA ini berlaku selama 30 hari bagi warga negara Indonesia. Tapi ku gak pakai cara ini karena khawatir ribet disananya, padahal mah aslinya kagak ribet sama sekali 😆

  •  E-Visa (Visa Elektronik)
Nah kalau visa ini, adalah visa yang sangat sangat sangat mudah untuk dilakukan, karena gak lebih dari 10 menit visa ini udah bisa kamu dapatkan. Harganya pun lebih murah dari VOA, kalau VOA biaya yang dibutuhkan sebesar 35 USD, kalau E-Visa hanya 25.70 USD dengan perincian 25 USD untuk biaya visa dan 0.70 USD untuk biaya servis. Lalu tinggal ikuti semua petunjuk pembayaran hingga selesai. klik https://www.evisa.gov.tr/en/ untuk pengajuan e-visa Turki. Lumayan, bisa menghemat sekitar 10 USD, tapiii... ada tapinya nih, kalau pake E-Visa ini pembayarannya harus pakai Credit Card (CC) karena ku anti yang begitu-begitu, hampir saja ku berniat untuk apply VOA, tapi karena ada sumber informan terpercayaku, dia bilang kalau BNI punya fitur untuk menggantikan CC, asal punya mobile banking BNI dan rekening BNI tentunya... wqwq nama fiturnya adalah BNI Debit Online (VCN) dia bisa menggantikan CC tanpa punya CC. Alhamdulillah. Makasih btw buat sumber informankuu ☺ 

Oia, satu lagi karena ini e-visa maka visanya gak ditempel di paspor. Sedih. wqwq

E-Visa Turki

Waktu Boarding
Sudah di halo-halo untuk boarding, maka waktunya terbanggg! maafkan ke-lebay-anku, seolah ini baru pertamakali naik pesawat. hehe karena bagiku setiap perjalanan punya kesannya masing-masing, termasuk perjalanan kali ini. Sekali lagi terimakasih Ya Ghaniy... :"

Kapan lagi naik pesawat bagus kan yaaa 😁
Perjalanan CGK menuju IST membutuhkan waktu kira-kira 12 jam, diatas pesawat ku ga merasa jenuh sama sekali karena pesawatnya nyaman, sehingga waktu 12 jam ga terasa. Oia, satu pengalaman lucu (bagiku) ketika di pesawat, saat ditawarin makan/minum, ketika ada pilihan mau minum apa, teh/kopi/jus/soda/bir (?) ku selalu meminta air putih, dan yang aku tau kan air putih bahasa inggrisnya mineral water kan yaa? maka ku bilang lah ku mau mineral water.... tapi.. yang ku dapat adalah airputih dengan gelembung-gelembung soda, ku pikir kalo didiemin sodanya bakal ilang.. ternyata tidak.. sedangkan mbak-mbak pramugari sudah pergi meninggalkanku. wqwq saat jam makan kedua, mbak-mbak pramugari menanyakan hal yang sama, mau minum apa? jawabanku sama, mineral water tapi kali ini ku bilang without soda, mbak pramugari nya keukeuh mineral water yaa ada sodanya, trus endingnya kita sama-sama tau, kalooooooo airputih yang ku maksud adalah water. tanpa menyebutkan mineral water. hahahaha. ku baru tau kalo mineral water dan water itu berbeda 😆😆😆

Sesampainya di Bandara Ataturk pagi hari jam 06.00, suasana masih gelap, seperti dini hari ternyata subuh disana sekitar jam setengah 7an. Alhamdulillah ku menginjakkan kaki juga di Konstantinopel -> Istanbul ini. :"

Setibanya di bandara Ataturk, Istanbul
Sheraton Atakoy, Istanbul
Viewnya langsung ke Bosphorus :"
Kalau kita hitung nikmat Allah maka tidak akan dapat dihitung, tak teramu oleh logika manusia. Nikmat dunia bagaikan setetes air.

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR Muslim no 2868).
MashaAllah :""

Puncak Acara
Akhirnya tanggal 29 November 2018 datang juga, akhirnya aku bertatapan langsung dengan pembicara-pembicara yang selama ini ku lihat namanya di rundown acara. MashaAllah, guru-guruku.. gumamku dalam hati. Acara begitu meriah, panggung begitu megah. Acara pembukaan pun dimulai, Presiden Erdogan yang ku tunggu ternyata berhalangan hadir karena ada agenda kenegaraan yang tidak bisa ditinggalkan. Sedih? tentu. tapi tak apa, mungkin dilain kali, setidaknya aku bisa menginjakkan kaki kesini karena dukungan dari Beliau. Sambutan disampaikan oleh Menteri Perekonomian Turki, oleh Menteri Palestina, dan Saudia Arabia. MashaAllah.

Keynote speaker dibuka oleh Yusuf Islam atau yang disebut Cat Stevens (lahir dengan nama Stephen Demetre Georgiou, lahir di London, Inggris, 21 Juli 1948 adalah seorang penulis lagu dan pemusik yang berasal Britania Raya. Pada awal karier musiknya, Georgiou mengambil nama Cat Stevens. Sebagai Cat Stevens, beliau berhasil menjual 40 juta album, kebanyakan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Lagu-lagunya yang paling populer termasuk "Morning Has Broken", "Peace Train", "Moonshadow", "Wild World", "Father and Son", "Matthew and Son", dan "Oh Very Young".

Beliau menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada tahun 1978 setelah mengalami near-death experience. dan lalu beliau mengambil nama Yusuf Islam dan menjadi seorang pendakwah. 

Ku diberi kesempatan untuk mengobrol singkat dengan beliau, ku ingat betul apa yang Beliau sampaikan, ketika ia mengatakan "Kita pasti pernah berbuat salah, tapi kita tidak pernah sekalipun Allah tinggalkan, kita gakan putus dari rahmatNya" MashaAllah mengingat itu kembali membuat dada bergetar, ku selalu dibuat takjub oleh orang-orang yang tinggal di negara minoritas muslim tapi ghirah dakwahnya begitu besar. MashaAllah, semoga dilain kesempatan bisa bertemu kembali :". 


Hari Pertama dapat dilewati dengan penuh kejutan yang mashaAllah. berada di event sebesar ini sampai sekarang masih tidak pernah terbayangkan oleh nalarku :" Hari kedua adalah sesiku. hahaha. aku udah lupa rasanya gemetar, sudah resisten. Ku cuma bisa senyum menenangkan diri kalau semuanya akan berlalu dan akan berjalan dengan baik. udah ikhtiarkan? sekarang waktunya tawakkal. (ujarku pada diri)  

Tepat hari jumat, hari yang penuh berkah :" disini ku merasakan atmosfer yang mashaAllah begitu kuatnya memperjuangkan salahsatu syariat Allah terkait Halal dari segala segi aspek kehidupan tidak saja hanya terkait makanan dan minuman, tapi dari ujung kaki hingga ujung kepala, dari apa yang kita gunakan dalam mengelola uang, dalam berwisata, dalam bertingkah, bahkan tidak hanya saja halal tapi thayyib pun diperhatikan, karena sejatinya halal dan thayyib selalu sejalan.

Aku ingat akan tema diskusi dengan para guru-guruku ketika dinner, salahsatu bercerita bahwa di New Zaeland ada seorang Professor yang biasa kami sebut Professor daging, kenapa disebut begitu karena beliau pakar tentang perdagingan, sayang... kali ini beliau tidak ikut, tahun kemarin beliau hadir. Beliau melakukan penelitian terkait dengan kualitas daging, beliau mengatakan Islam itu agama yang penuh kasih, untuk menyemblih hewan saja ada adabnya, perlu digunakan pisau yang tajam agar tidak melukai, sebelum disemblih harus menyebut nama Allah. Dan disini letak menariknya, beliau melakukan penelitian yang membandingkan antara hewan yang disemblih atas nama Allah dan hewan yang disemblih tanpa nama Allah, studi membuktikan bahwa kualitas dagingnya sangat berbeda signifikan, hewan yang disemblih atas nama Allah memiliki kualitas yang baik dibandingkan dengan hewan yang disemblih tanpa nama Allah, oleh karena penelitiannya itulah pada akhirnya beliau masuk Agama Islam (mualaf).. mashaAllah... untuk kesian kali-kali-kalinya aku dibuat tercengang akan kisah seperti ini :""

Untuk paper tentang penelitian yang beliau lakukan, sedang aku mintakan. Aku juga penasaran bagaimana detail hasil penelitiannya :"""

Kembali ke sesiku, disini aku disandingkan dengan pembicara-pembicara lain yang memiliki tema hampir sama yaitu tentang Laboratories and Halal Authentication. 

Dari kiri adalah Assoc Prof. Dr. Ayla Arslan dari Bosnia, disamping beliau adalah Dr. Moohamed Ropaning Sulong dari Selangor, Malaysia, disampingnya lagi Dr. Mohamed Shojaee Aliabadi dari Iran, Ihsan Ovut, Secretary General SMIIC, Dr. Marwa M. Rezk dari Egypt, dan terakhir Assist Prof. Dr. Ertan Ermis dari Turki. 
Berdampingan dengan beliau, mashaAllah... banyak sekali ilmu yang didapat, terlebih banyak masukan yang beliau sampaikan pada anak bawang macam aku ini. Ada hal yang menarik untuk diriku ketika di atas panggung, aku ingat betul aku adalah pembicara ketiga setelah Dr. Shojaee Ali dan Dr. Marwa, tiba giliran aku, aku terdiam sambil jalan menuju podium, aku cuma mengucap, "Istigfar..." karena katanya jika terlalu banyak keinginan dan tidak mampu diucapkan, maka ucapkan saja istigfar, maka Allah perkenankan apa yang kita butuhkan, dan benar saja, ketika ku berdiri didepan podium, seluruh rasa takutku hilang.. dada yang berdebar kencang tiba-tiba menjadi tenang, dan ku buka bagianku dengan salam dan sholawat nabi... semua tampak fokus pada apa yang aku sampaikan... hingga sesi berakhir, riuh penonton memberiku tepukan tangan, dan saat akan kembali duduk, Dr Ali tersenyum sambil mengucapkan "congratulation..." dalam hatiku bergumam... "Oo Allah.. ini apa?" 

Tunai sudah janji pada diri sendiri untuk memberikan yg terbaik akan hal ini. Disambut dengan antusias partisipan dengan hujanan pertanyaan-pertanyaan, bahkan hingga turun panggung, tak hentinya ku diberi ucapan doa dan selamat, entah selamat untuk apa, yg jelas saat ini, masih haru + cirambai rasanya dikatakan "You are the youngest speaker on this event, I'm sure someday you will become a great person” MashaAllah. Ku speechless, meng-aamiin-kan sekenceng2nya dalam hati :““




Masih terasa hangatnya panggung itu, masih terasa ini pertama kalinya ku pake mic yang dicentelin ke kepala dan ditaro dipipi (kayak pembicara profesional yang biasa muncul di tv-tv) dan yang paling berarti buatku adalah aku paling muda disana, tapi ideku didengar :" aku dilibatkan dalam forum ini, dalam diskusi terkait halal yang melibatkan semua Negara OKI. mashaAllah. Allah... dengan apa aku berterimakasih? :"


Segala sesi berakhir dengan baik, tak terasa pula sudah 5 hari aku di negara Istanbul ini, tapi aku belum kemana-mana 😆 Oia, karena ku diundang bukan untuk kemana-mana sih, makanya jangan heran kalau aku tidak kemana-mana. 

Hanya saja diakhir sesi, ketika hari penutupan, hari terakhir sebelum nanti malam aku kembali ke Indonesia, Panitia berbaik hati untuk mengizinkan ku pergi menelusuri kota Istanbul, wqwq mungkin mereka kasian kali yaa padaku yang mengatakan di panggung saat itu, ini pertama kalinya aku ke Istanbul 😆 akhirnya dengan bermodalkan nekat ku menelusuri Istanbul. tidak muluk-muluk, inginku hanya satu, aku ingin melihat Hagia Sophia, Blue Mosque, Museum Toppkapi, dan Galata Tower beserta Bosphorus langsung. walau bosphorus sudah ku lihat dari jendela kamarku, namun tetap saja rasanya berbeda, dan setelah dilalui memang berbeda.

Satu hal yang perlu ku ingatkan disini, orang lokal Turki ganteng-ganteng dan cantik-cantik, MashaAllah. hanya saja kebanyakan mereka tidak bisa berbahasa inggris dan itu menjadi kendalaku selama disana. Hanya bermodalkan bahasa isyarat. Oia, satu lagi, kemanapun pergi tetap harus hati-hati. karena disetiap perjalanan selalu saja ada orang tidak baik.

Waktu itu aku hendak pergi ke Hagia Sophia, yang mana harus naik trem, kalau di Indonesia mah semacam KRL, otomatis harus punya kartu nya dong, di Indonesia sih kita paham kalau ada e-money, flash, dll. tapi di turki? aku nanya siapa? pada akhirnya ku bertanya ke orang pakai bahasa inggris tentunya, dan dia (entah paham atau tidak) sepertinya dia mau membantu, dia mengarahkanku kepada mesin isi ulang saldo kartu tersebut, aku dimintai uang sebesar 50 TL. dan ku diantarkan untuk naik ke trem, tapi ketika akan masuk, ada polisi yang mencegat kami, polisi itu nanya ke orang yang mengantarku, nadanya seperti marah (pakai bahasa Turki) dan ternyata benar saja...orang ini mau menipuku ternyata, sambil pergi orang tersebut mengembalikan uangku dan mengucapkan permintaan maaf (sepertinya... ku ga paham karena pake bahasa Turki) *alhamdulillah Allah masih menolongku. 

Pada akhirnya, aku diantar kembali ke mesin saldo tersebut oleh bapak polisi, padahal hanya dengan 10 TL ku dapat kartu sekaligus saldonya. MashaAllah. sebenarnya ini hanya karena bahasa. So, hati-hati ya guys :""" (jangan cuma modal nekat doang kaya aku wqwq)

Kartu semacam e-money (Indonesia) atau Suica (Jepang) 
Dengan segala drama dijalan, akhirnya aku menapakkan kaki di masjid Sultan Ahmet Camii (Blue Mosque) dan Hagia Sophia. Akhirnya apa yang ku lihat selama ini di foto, ku lihat langsung depan mataku. mashaAllah. Terimakasih Allah untuk kesempatannya.

Disini ku memejamkan mata, mencoba merasakan bagaimana Muhammad Al-Fatih menaklukan konstatinopel pada saat itu.

Muhammad Al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah. Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Ku belajar, peran orang tua sangat besar dalam mencetak anak-anaknya kelak akan jadi apa dan jadi siapa :"

Peperangan dahsyat dalam merebut Konstatinopel pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lalu akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

***
Depan Hagia Sophia (foto bermodalkan tripod😆)
Sultan Ahmet Camii (Blue Mosque)
Dalam Hagia Sophia
Tidak lebih dari 5 jam ku mengelilingi kota Istanbul, setidaknya aku bisa melihat apa yang ingin daridulu aku lihat, Blue Mosque dan Hagia Sophia. walau museum Topkkapi, Galata Tower ga sempat ku masuk melihat langsung, tapi melihat dari luar sudah cukup puas rasanya bagiku.

Terakhir perjalanan sebelum ku kembali ke hotel karena sudah ditunggu rombongan untuk ke Bandara, aku menyempatkan diri untuk menyusuri selat bosphorus dengan rute Eminönü menuju Kadikoy. Disini tak kuasa ku membendung airmata yang sedari tadi sudah ingin meluap. Diikuti semilir angin dan burung-burung yang mengikuti kapal, ku mereflesikan diri. 

-Senja di Bosphorus-
Bagiku, tidak melakukan perjalanan apabila dalam setiap langkah tidak menemukan Tuhan. Yg kekal itu akhirat, dunia hanya untuk singgah, jadi mengapa terlalu ambisi mengejar dunia? :)
Perjalanan singkat dari Eminönü menuju Kadikoy mengubah semua list yang pernah diajukan, ternyata semuanya terlalu duniawi. Ada yang paling penting untuk dikejar dan dipersiapkan. Akhirat. Sudah sejauh mana mempersiapkan zi? :“

O.. Allah.. mudah bagi Engkau mewujudkan yang tampak mustahil menjadi nyata, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Mu. Kembali ku mengingat sebuah kalimat yang selalu aku tulis besar disudut kamar kosku, "Tidak Ada yang Tidak Ku miliki Jika Aku memiliki Engkau.." dan kalimat itu semakin kesini semakin terasa wujudnya.. Ya Mujibb.. Terimakasih.
Ya Mujiib.. Dengan ini ku revisi proposal yang pernah diajukan, acc ya :))
dan untuk SMIIC
It is a pleasure for me to be able to be involved in a blessing forum such as the World Halal Summit 2018, a forum that fights for one of the Shari'a of Allah, to ensure that all aspects of life are in accordance with God's guidance.
Still imagined, I was very impressed with the speakers who came from various countries expressing their innovations in the halal field. In my heart murmuring, "O Allah ... it turns out there are still many of Your servants who are fighting for Your religion"
The World Halal Summit 2018 event serves as a bridge to realize the Shari'ah of God, especially in the halal field in all aspects of life, may Allah always bless what has been done by those who care about the Shari'a of Allah. Aamiin.
The city of Istanbul is a symbol of the victory of Muslims. Thank you for always reminding to keep fighting for the Religion of God.
Thank you World Halal Summit 2018, Thank you SMIIC. May the ukhuwah stay awake. Aamiin.
***
Akhir kata dari tulisan ini adalah, ku mengingatkan diri sendiri, bahwa mimpi itu hanya sebatas jarak kening dan tempat sujud, ketika punya mimpi, langitkan lah dengan tak lupa membisikkan pada bumi.

Jangan khawatir ketika ingin menelusuri bumi Allah tidak punya uang, karena ada Ia Yang Maha Kaya, ku membuktikan bahwa tanpa uang sepeserpun yang ku keluarkan ku bisa memperluas tempat sujudku. Ku selalu mengikrarkan dalam hati. Tenang ada Allah :) 

***

Yuk Perbanyak bersyukur
Luruskan niat untuk jadi insan yang bermanfaat "khoirunnas anfaahum linnas"
Allah Takkan membiarkan hambaNya menangis sendirian :)
Istanbul sangat berkesan
InshaAllah ku kembali di lain kesempatan dengan kamu :)
InshaAllah

1 komentar:

  1. JOIN NOW
    Dan Dapatkan Bonus yang menggiurkan dari dewalotto.club
    Dengan Modal 20.000 anda dapat bermain banyak Games 1 ID
    BURUAN DAFTAR!
    Menyediakan Deposit Via Pulsa TELKOMSEL / XL
    Dompet Digital Via OVO, DANA, LINK AJA DAN GOPAY
    Info Lebih Lanjut Bisa Hub kami Di :
    WA : +855 88 868 8229
    Online 24Jam Bosku
    www.dewa-lotto.site
    www.dewa-lotto.club

    BalasHapus